Sabtu, 14 Januari 2017

DNA dalam Pengungkapan Kasus

KINI dengan analisis dan teknologi deoxyribonucleic acid (DNA), kasus-kasus yang sulit terungkap menjadi lebih mudah terungkap dan terpecahkan. Seperti kita ketahui, DNA adalah bahan dasar yang membangun seluruh ciri genetik seseorang. DNA terdapat pada setiap sel manusia, dan seluruh sel memiliki DNA yang sama satu dengan yang lainnya. Misalnya, DNA yang ada pada sel kulit sama dengan DNA yang terdapat pada sel darah maupun DNA pada sel rambut dan lain sebagainya. Selain itu, DNA bersifat unik yakni setiap DNA seseorang berbeda dengan DNA orang yang lain. Karena sifat inilah DNA bisa dipakai sebagai penanda identitas individu, garis keturunan, dan etnis. DNA terdapat pada darah, sel kulit, otot, sel-sel otak, tulang, gigi, rambut, saliva, jantung, mukosa, urine, dan pada seluruh sel manusia.
Analisis DNA manusia bertujuan untuk mengarakterisasi DNA seseorang untuk mengidentifikasi susunan DNA-nya. Barang bukti DNA dapat diambil dari barang bukti biologis, baik dalam keadaan utuh maupun tidak utuh lagi. Hal ini berbeda dengan analisis sidik jari yang mudah rusak atau hilang dan akurasinya sangat bergantung pada keutuhannya. Tes DNA dapat dilakukan hanya dengan barang bukti DNA yang jumlahnya sedikit. Hal ini karena digunakannya teknik yang disebut Polymerase Chain Reaction (PCR) atau reaksi polimerasi berantai.
Teknik ini ditemukan oleh seorang ahli biologi molekuler yang bernama Kary Mullis yang bertujuan untuk menggandakan atau mengamplifikasi DNA, agar memiliki DNA yang cukup jumlahnya untuk dikomparasi atau dibandingkan dalam suatu tes.
Penggunaan DNA dalam memecahkan suatu kasus dilakukan dengan membandingkan DNA tersangka dengan barang bukti DNA yang didapatkan dari tempat kejadian perkara. Hasil perbandingan tersebut dapat membantu menemukan siapa pelaku kejahatan yang sebenarnya, baik pada kasus kejahatan maupun dalam hal menentukan pelaku bom bunuh diri secara akurat.
Kini, terdapat beberapa teknik lainnya dalam tes DNA, di antaranya analisis DNA mitokondria. Teknik ini telah dikembangkan oleh FBI (Federal Bureau of Investigation) Amerika Serikat sejak tahun 2002, setelah penyerangan terhadap menara kembar WTC dan Gedung Pentagon. Database yang mereka kembangkan berupa profil-profil DNA berbagai suku atau etnis di dunia yang terdiri dari data forensik dan data publik.
Keunikan DNA mitokondria manusia adalah setiap anak memiliki DNA mitokondria yang sama dengan DNA mitokondria ibunya. Oleh karena itulah analisis DNA mitokondria umumnya dilakukan untuk mengidentifikasi keturunan dari garis keturunan ibu (maternally linkage), dan sering pula digunakan dalam penelusuran orang hilang.
Sebagai informasi, penulis telah menganalisis DNA mitokondria pada individu-individu manusia populasi Papua dan memasukkannya pada bank data DNA seperti Genbank, EMBL, dan DDBJ.
Hal yang sangat penting dalam pemecahan kasus dengan barang bukti DNA adalah penanganan barang bukti secara tepat dan sesuai dengan prosedur standar. Hal ini penting karena mengidentifikasi, mengoleksi, dan menyimpan agar tidak terkontaminasi sehingga dapat dihindari tercampurnya DNA tersangka/pelaku dengan DNA lain.
Untuk menghindari kontaminasi barang bukti yang mengandung DNA, diperlukan beberapa prinsip kehati-hatian yang harus dilakukan oleh orang yang menanganinya. Di antaranya memakai sarung tangan, memakai peralatan yang berlainan setiap menangani barang bukti berbeda, hindari berbicara, bersin dan batuk di dekat barang bukti, hindari menyentuh wajah, hidung, dan mulut saat mengambil sampel barang bukti, serta jaga barang bukti agar tidak lembap.
Dengan adanya barang bukti berupa DNA, dapat dicapai tujuan dari pemecahan suatu kasus seperti pembuktian tindak kriminal, yaitu membuktikan seorang tersangka atas kejahatan yang telah dilakukannya, membebaskan orang yang tidak bersalah dari tuntutan hukum, membuktikan keabsahan hubungan atau ikatan keluarga dari seseorang, mengidentifikasi orang tak dikenal seperti korban perang, mempelajari populasi manusia, dan mempelajari penyakit keturunan.
Selain data milik FBI seperti yang disebutkan di atas, kini pihak kepolisian di Inggris telah menggunakan database online, yang didalamnya telah terdapat hampir 500.000 profil genetik yang dapat dibandingkan dengan barang bukti yang terdapat di TKP, sehingga memudahkan penyelidikan lebih lanjut.
Profil-profil genetik tersebut memuat DNA secara random dari warga Inggris dan warga migran lainnya, terutama mereka yang pernah menjadi pelaku kriminal dan keluarganya. Barang bukti DNA tidak hanya mengungkap suatu kasus kriminal, tetapi juga dapat membuktikan keabsahan hubungan atau ikatan keluarga.
Dengan kehidupan yang cepat berubah dewasa ini, begitu pula bentuk dan motif kriminalnya yang semakin beragam. Barang bukti berupa DNA dapat menjadi salah satu hal potensial yang digunakan para penegak hukum dalam memecahkan kasus. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris dengan tingkat ancaman kriminalitas yang beragam, termasuk salah satunya adalah ancaman terorisme, berusaha memaksimalkan teknologi DNA untuk memecahkan kasus kriminal, sekaligus melindungi orang yang tidak bersalah terhadap tuduhan pelaku kejahatan.
Negara kita dengan tantangan penegakan hukum yang semakin tinggi, juga menggunakan teknologi DNA untuk mendapatkan suatu kepastian secara akurat, seperti dalam memastikan tersangka pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott dan The Ritz-Carlton, yakni Dani Dwi Permana dan Nana Ichwan Maulana. Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri tetap perlu mengambil sampel darah dari keluarga orang tua pelaku untuk dilakukan pencocokan (homologi) DNA, untuk mendapatkan kepastian secara ilmiah. Ke depan, diperlukan membangun suatu database yang memuat profil-profil DNA manusia Indonesia dari berbagai suku untuk mempermudah pihak kepolisian dalam mengungkap kasus-kasus tindak kejahatan dan pelaku bom bunuh diri.
Penegakan hukum kini dibantu dengan teknologi DNA. Dengan keterkaitan dua hal tersebut, terdapat perubahan definisi mengenai tangggung jawab kriminal dan banyak lagi area hukum yang dipengaruhi oleh hadirnya teknologi ini. Penegakan hukum (law enforcement) dan keadilan yang ditujukan untuk melayani dan melindungi masyarakat kini menjadi area multidisiplin, seperti biologi molekuler, biokimia, kedokteran farmasi, teknologi komputasi, kepolisian, kependudukan, kemiliteran dan lain sebagainya.

Bermain dengan Intuisi


Suatu hari, si A dan si B memutuskan untuk membakar sampah yang sudah menumpuk di depan rumah mereka. Sampah itu terdiri dari dedaunan kering dan plastik.

Untuk membakar sampah itu, mereka membutuhkan minyak tanah. Tetapi, karena minyak tanah sukar ditemukan, mereka pun menggantinya dengan bensin.
Singkat cerita, diputuskan si A bertugas mengguyur sampah dengan bensin dan menyulutnya dengan korek api. Sementara itu, si B bertugas untuk membeli bensin eceran di pinggir jalan.
Nah, ketika si A hendak menyulut api, tiba-tiba si B menghentikannya. “Stop! Jangan dekat-dekat nyalainnya. Nanti loe kesambar apinya.”
Mendengar larangan temannya, si A tetap ngeyel. Ia tetap menyulut api dari jarak dekat.
Lantas, apa yang terjadi?
“Brusss!!!” Api menyambar apa saja yang ada di depannya! Untung si A masih sempat menghindar. Meskipun terpental, yang terpenting ia tidak ikut tersambar kobarannya dan hanya luka sedikit di pergelangan kaki akibat terjatuh.
“Kan sudah dibilangin, jangan dekat-dekat. Dikasih tau ngeyel!” Demikian reaksi si B seketika melihat temannya jatuh tersungkur.
“Haduuuuuh, sakit, nih, kaki gue. Barusan serem amaaaat!! Tapi, ngomong-ngomong, kok, bisa nyambar, ya, apinya?” tanya si A penasaran.
“Ga tau. Tapi, seringnya gitu, sih, kalo bakar bensin,” jawab si B asal-asalan.
Nah, dari cerita di atas, apa yang dapat Anda simpulkan?
Yup! Tepat! 100% tepat! Inti cerita di atas adalah DAHSYATNYA INTUISI! Dalam cerita itu, apa yang mendorong si B melarang si A menyulut api dari jarak dekat adalah intuisinya. Ketika melihat si A hendak menyulut api, tiba-tiba terbersit FIRASAT BURUK di hati si B. Firasat itu menyuruhnya mencegah si A menyulut api dari jarak dekat.
Rupanya, firasat itu tepat! Andai saja si A mendengarkan si B, maka ia terhindar dari semburan api dan tak perlu menahan sakit karena luka di kakinya. Tetapi, si A tidak menghiraukan larangan itu. Akibatnya, ia terluka di kaki lantaran terpental.
Hebat sekali, bukan, kekuatan firasat alias intuisi?! Berkat intuisi, si B mampu meramalkan apa yang bakal terjadi pada temannya. Berkat intuisi, si B mengambil keputusan yang tepat, yaitu mencegah temannya menyulut api dari jarak dekat.
Memang, sudah menjadi rahasia umum intuisi saaaaangat dahsyat. Anda tentu sudah tahu itu sejak dulu. Tetapi, pertanyaannya, bagaimana cara memperoleh intuisi? Mengapa intuisi si B kuat dibanding si A? Mengapa orang-orang tertentu memiliki intuisi yang tajam, sedangkan Anda tidak?
Untuk menjawabnya, pertama kita harus tahu apa sebenarnya intuisi itu. Kita harus tahu apa sumber intuisi, bagaimana intuisi muncul, dan apakah intuisi selalu benar atau kadang-kadang salah. Dari situ, kita pun tahu cara mempertajam intuisi kita.

Apa Itu Intuisi?

Artikel yang berjudul Kekuatan Pikiran Anda Itu Bernama Intuisi! menjawab 4 pertanyaan di atas. Dalam artikel itu, dijelaskan pengertian intuisi menurut para pakar psikologi. Menurut para pakar, intuisi adalah pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa proses pemikiran. Untuk mendapatkan intuisi, Anda tidak perlu berpikir. Intuisi bak jelangkung: Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Heheheh. Maksudnya, Anda tidak perlu memanggilnya. Ia muncul begitu saja ketika Anda membutuhkannya. Dan, saat tiba-tiba intuisi muncul, Anda dapat bersandar kepadanya. Artinya, Anda dapat mengandalkannya untuk membuat keputusan.

Seberapa Dahsyat Intuisi?

Cerita “Membakar Sampah” di atas merupakan salah satu contoh bagaimana kita menggunakan intuisi untuk membuat keputusan. Sebenarnya, baaaaaanyak sekali kisah menarik yang menggambarkan sepak terjang intuisi yang dahsyat. Sebut saja kisah seorang pembalap yang selamat dari kecelakaan lantaran intuisinya. Ada juga kisah pemadam kebakaran yang terhindar dari gedung runtuh berkat intuisinya.
Namun demikian, di balik kedahsyatan intuisi, terkadang, ia tidak luput dari kekeliruan. Firasat/intuisi tidak selalu tepat! Setidaknya, begitulah menurut Daniel Kahneman, pakar psikologi yang banyak meneliti kelemahan intuisi. Kahneman menjelaskan bahwa intuisi kadang menyesatkan, terutama jika sumber intuisi berasal dari bias atau heuristik.

Apa Saja Sumber Intuisi dan Bagaimana Mekanisme Kemunculannya?

Sumber intuisi yaitu pengalaman masa lalu. Pengalaman itu tersimpan di dalam pikiran bawah sadar. Saat kita menghadapi masalah yang pelik, gambaran tentang pengalaman itu bisa tiba-tiba muncul ke permukaan (ke pikiran sadar). Selanjutnya, gambaran itu dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi Anda. Anda dapat memanfaatkan gambaran itu untuk membuat keputusan.
Selain pengalaman masa lalu, pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman orang lain juga dapat menjadi sumber intuisi. Jadi, apabila Anda tidak berpengalaman dalam pemadaman kebakaran, Anda masih mungkin memiliki intuisi/firasat yang berkenaan dengan peristiwa kebakaran. Kuncinya, Anda banyak belajar dari pengalaman petugas pemadam kebakaran.
Sumber intuisi selanjutnya yaitu bias. Apa itu bias? Bias adalah cara berpikir yang menyimpang dan tidak objektif. Pikiran yang dihasilkan lewat bias biasanya menyimpang dari kenyataan. Jikalau ia sesuai kenyataan, maka hal itu hanyalah kebetulan.
Bagaimana bisa menjadi intuisi? Bias menjadi intuisi manakala bias menjadi kebiasaan berpikir kita. Karena kita terbiasa berpikir dengan bias, maka interpretasi (tentang pengalaman yang kita lalui) yang tersimpan di dalam bawah sadar pun mengandung bias. Selanjutnya, interpretasi yang mengandung bias itu bisa muncul sewaktu-waktu ke permukaan (pikiran sadar) saat kita menjumpai situasi yang mirip dengan pengalaman itu. Saat ia muncul ke permukaan, maka saat itulah ia menjadi intuisi.
Terakhir, heuristik juga bisa menjadi sumber intuisi kita. Heuristik sama artinya dengan asumsi atau dugaan. Dan, karena ia hanya dugaan, kadang-kadang tepat, tetapi tak jarang juga meleset. Seperti bias, heuristik bisa bermacam rupa. Contoh, trial and error, rule of the thumb, shortcut, dan masih banyak lagi.
Heuristik bisa mnejadi sumber intuisi manakala kita terbiasa berpikir dengan metode berpikir ini, terbiasa membuat asumsi, melakukan trial dan error, dan mempercayai rule of the thumb. Karena terbiasa berpikir dengan heuristik, maka intuisi yang muncul pun berasal dari heuristik.

Bagaimana Cara Memanfaatkan Intuisi untuk Membuat Keputusan?

Gary Klein, pakar psikologi yang banyak mengungkap kedahsyatan intuisi memberikan contoh yang saaaangat menarik tentang bagaimana seseorang menggunakan intuisi (berupa gambaran tentang pengalaman di masa lalu) untuk membuat keputusan.
Diceritakan, Klein memiliki teman seorang mantan kolonel angkatan laut. Sebut saja namanya Mr. X.
Suatu hari, Mr. X mengunjungi latihan angkatan laut. Meskipun sudah pensiun, ia tetap diijinkan untuk melihat latihan itu.
Dalam latihan itu, para tentara dilatih untuk mengawasi kedatangan tank musuh dan melaporkannya kepada atasan mereka sedemikian sehingga sang atasan dapat mengambil keputusan untuk menyerang.
Singkat cerita, Mr. X ikut mengamati medan. Seperti tentara yang sedang berlatih, ia menunggu kedatangan tank musuh. Beberapa saat kemudian, muncul sebuah tank menuruni lembah. Melihat kejadian itu, tiba-tiba terbersit firasat dalam hatinya. Firasat itu mengatakan ada yang janggal dengan kedatangan tank tersebut. Lantas, ia pun bergumam dalam hati, “Tak mungkin musuh hanya mengirim satu tank. Biasanya mereka datang bergerombol. Paling tidak ada dua tank. Pasti mereka merencanakan sesuatu.”
Dia terus mengawasi kedatangan tank berikutnya. Tetapi, yang ditunggunya tak kunjung datang. Karena itu, dia menyimpulkan bahwa tank kedua bersembunyi di suatu tempat. Ia lantas memicingkan mata, mencari-cari keberadaan tank yang bersembunyi itu. Dan, akhirnya, ia pun menemukannya.
“Kena kau!” gumamnya dalam hati, mengumpati tank kedua yang ditemukannya.
Nah, karena firasat itu, Mr. X mengetahui bahwa tank yang datang bukan hanya satu. Pengetahuan itu memberikannya pemahaman bahwa ia dan pasukannya tidak boleh meremehkan kedatangan musuh.
Dari kisah Mr. X di atas, Anda paham bagaimana ia menggunakan intuisi/firasat untuk membuat keputusan?
Pertama, ia melihat kejadian (kedatangan satu tank dari balik bukit).
Kedua, kejadian itu mengingatkannya pada peristiwa yang sering dialaminya. Peristiwa apa itu? Peristiwa kedatangan tank musuh yang dulu sering ia amati saat masih menjadi angkatan laut.
Ketiga, ia membandingkan peristiwa sekarang dengan pengalaman masa lalunya itu.
Empat, dari perbandingan itu, diperoleh kesimpulan bahwa kejadian yang ia lihat sekarang berbeda dengan kejadian yang sering dialaminya. Menurut pengalaman masa lalunya, tank tak pernah datang sendirian; Tank selalu datang bergerombol.
Kelima, karena perbedaan itu, ia pun menyimpulkan ada yang tidak beres dengan kedatangan tank yang ia lihat sekarang.
Keenam, kesimpulan itu mendorongnya untuk mengambil keputusan. Apa keputusan yang diambilnya? Keputusan yang diambilnya yakni ia harus memastikan jumlah tank yang datang. Ia harus berjaga-jaga kalau-kalau tank lainnya muncul. Ia dan pasukannya tak boleh terlena.
Kira-kira, seperti itulah mekanisme munculnya intuisi dan cara menggunakannya untuk membuat keputusan.

Syarat Intuisi

Di artikel yang berjudul Kekuatan Pikiran Anda Itu Bernama Intuisi!, dijelaskan bahwa agar Anda memiliki intuisi yang tajam dalam suatu bidang, Anda harus terlebih dulu memiliki banyak pengalaman dalam bidang itu. Semakin banyak pengalaman yang Anda miliki, maka semakin tajam intuisi Anda dalam bidang tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit pengalaman Anda, semakin lemah pula intuisi Anda dalam bidang itu. Atau bahkan, Anda tidak memiliki intuisi sama sekali dalam bidang itu.
Seseorang yang baru pertama kali melihat tank di medan tempur tidak mungkin memiliki firasat buruk tentang medan perang. Seorang yang baru pertama kali membakar bensin tidak akan memiliki firasat buruk ketika ia membakar bensin. Orang yang baru pertama kali terjun di arena balapan tidak mungkin memiliki firasat yang berhubungan dengan balapan. Dan, bayi umur tiga tahun yang belum banyak pengalaman hidup, tidak mungkin memiliki firasat buruk tentang dirinya dan keluarganya.

Pengalaman Orang Lain

Nah, untuk melengkapi penjelasan itu, dalam artikel ini penulis tambahkan bahwa meskipun Anda tidak memiliki banyak pengalaman dalam suatu bidang, Anda masih dapat memiliki intuisi dalam bidang itu. Caranya yaitu dengan belajar dari pengalaman orang lain.
Cara ini didasarkan pada metode CTA (Cognitive Task Analysis) yang digunakan oleh Gary Klein untuk mengumpulkan petunjuk (yang menjadi intuisi) yang diperoleh dari para ahli, di mana petunjuk yang terkumpul dijadikan sebagai bahan pengetahuan bagi tenaga kerja baru. Tujuannya, supaya tenaga kerja baru tahu apa yang harus mereka lakukan ketika menjumpai situasi yang mirip dengan petunjuk-petunjuk itu di lapangan.
cara mempertajam intuisi
Contoh, di UPIN (Unit Perawatan Intensif Neonatal) sebuah rumah sakit, sejumlah perawat memiliki intuisi yang tajam tentang keadaan bayi yang dirawat. Entah bagaimana caranya, mereka tahu tanda-tanda saat seorang bayi terserang penyakit.
Terkesima dengan kemampuan intuitif itu, tim Klein lantas mewawancarai para perawat satu-persatu. Mereka menanyakan apa saja tanda-tanda bayi terserang penyakit. Selanjutnya, setelah terkumpul semua informasi tentang tanda-tanda itu, mereka lantas menyampaikan informasi tersebut kepada para perawat baru, yang belum berpengalaman.
Dengan demikian, para perawat baru mampu memanfaatkan informasi itu (informasi tentang tanda-tanda bayi terserang penyakit) untuk memeriksa kesehatan bayi yang dirawatnya. Metode CTA memungkinkan perawat baru memiliki intuisi yang memadai tentang kondisi kesehatan bayi.
Nah, Anda pun dapat mengaplikasikan metode CTA secara mandiri untuk memperluas wawasan Anda tentang suatu bidang. Siapa tahu, wawasan itu nantinya berguna bagi Anda. Siapa tahu, wawasan itu dapat menjadi sumber intuisi bagi Anda dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah.

Cara Mempertajam Intuisi menurut Para Pakar

Setelah mengetahui definisi intuisi, apa saja sumber intuisi, bagaimana intuisi muncul, dan bagaimana menggunakan intuisi, sekarang, yuk, beranjak pada cara mempertajam intuisi. Cara-cara ini di dasarkan pada temuan para pakar mengenai intuisi sebagaimana dijelaskan di atas.

1. Pengalaman

Agar intuisi Anda semakin tajam, perkaya diri Anda dengan pengalaman. Semakin berpengalaman Anda, maka semakin tajam intuisi Anda. Sebaliknya, semakin sedikit pengalaman Anda, semakin lemah pula intuisi Anda. Atau, Anda sama sekali tak memiliki intuisi dalam bidang itu.
Memperbanyak pengalaman juga bisa dilakukan dengan cara rutin berlatih. Seorang grand master catur menjadi grand master lantaran rutin berlatih. Semakin rutin berlatih, semakin kaya perbendaharaannya mengenai berbagai macam posisi catur, maka semakin tajam pula intuisi mereka dalam permainan itu. Menurut William G. Chase dan Herbert A. Simon (pakar dari Carnegie-Mellon University), seorang grand master catur mampu mengingat setidaknya 50.000 hingga 100.000 pola/posisi. Dengan perbendaharaan pola sebanyak itu, mereka mampu mengidentifikasi langkah yang tepat tanpa perlu memperhitungkan semua kemungkinan yang ada.
Lantas, berapa banyak waktu yang mereka butuhkan untuk mengumpulkan dan menyimpan 50.000-100.000 pola permainan catur di dalam pikiran bawah sadar? Setidaknya 10 tahun!
Bayangkaaaan! 10 tahun!!!
Anda pun dapat menjadi grand master dalam bidang yang Anda minati. Caranya, rutin berlatih seperti grand master catur. Semakin sering Anda berlatih, semakin kaya berbendaharaan pengalaman dalam pikiran bawah sadar Anda, maka semakin tajam intuisi Anda dalam bidang itu.

2. Belajar

Selain pengalaman diri sendiri, Anda juga perlu belajar dari pengalaman orang lain. Dalam bidang apa Anda ingin memiliki intuisi yang kuat? Tekuni bidang itu dan pelajari semua hal di dalamnya. Banyak-banyaklah membaca buku yang berkaitan dengan bidang itu.

3. Atur Fokus

“Always remember, your focus determines your reality.”
-George Lucas
Sebagaimana nasihat di atas, Anda harus berhati-hati dengan fokus Anda. Jangan sampai fokus Anda menyimpang.
Apa contoh fokus yang menyimpang? Contohnya:
Suatu hari, Anda memeriksakan anak Anda ke rumah sakit. Di rumah sakit, dokter bertanya kepada Anda, “Umurnya berapa, Pak?” dan, Anda pun menjawab, “45 tahun.” Padahal, yang ditanya sang dokter adalah umur anak Anda, bukan umur Anda. Haha….
Dalam contoh itu, fokus Anda keliru. Anda berfokus pada diri Anda sendiri, bukan pada anak Anda. Padahal, yang akan diperiksa dokter adalah sang anak. Akibat salah fokus, informasi yang Anda berikan ke dokter pun salah.
Lantas, bagaimana jadinya jika fokus Anda sering keliru? Bagaimana jadinya jika fokus Anda menyimpang, tidak sesuai kepentingan Anda? Maka, informasi yang Anda serap pun tidak relevan alias tidak sesuai kebutuhan Anda.
Informasi yang tidak relevan itu masuk ke dalam pikiran bawah sadar dan menjadi sumber intuisi Anda! Dan, saat informasi itu muncul ke permukaan (menjadi intuisi), maka ia memberikan petunjuk yang justru menyesatkan Anda!
Untuk itulah, untuk mempertajam intuisi Anda, biasakan mengatur fokus sedemikian sehingga sesuai kepentingan Anda.

4. Hindari Bias dan Heuristik

Terakhir, hindari kebiasaan berpikir dengan bias dan heuristik. Mengapa? Meskipun bias dan heuristik kadang tepat, tetapi tak jarang juga dua metode berpikir itu menyesatkan. bagaimana bias dan heuristik menyesatkan Anda. bahwa bias dan heuristik dapat menyesatkan Anda sedemikian sehingga Anda tidak mampu memahami kenyataan. Bias dan heuristik juga mendorong Anda membuat keputusan yang keliru. Bahkan, bias juga membuat Anda stres dan membuat anak Anda pesimis belajar. 

Sabtu, 17 Desember 2016

Inspirasi dari Jenderal Besar Sudirman

Jenderal Besar Sudirman merupakan pahlawan yang pernah untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan pejajahan. Saat usianya masih yang masih relatif muda yaitu saat berumur 31 tahun sudah menjadi seorang jenderal. Walaupun menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda.

Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem, berasal dari Rawalo, Purwokerto. Mereka adalah keluarga petani.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.





SOEDIRMAN PANGLIMA BESAR YANG BERPRINSIP




Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, begitu kata pepatah. Kita teladani Pak Dirman, yang berprinsip, mencintai rakyat, bijak dan teguh.

Berprinsip.

" … perjuangan kita harus didasarkan pada kesucian," demikian yang disampaikan Pak Dirman dalam pidato pelantikan beliau menjadi Panglima Besar. Prinsip yang mencerminkan sikap jujur, adil, dan dapat dipercaya tersebut beliau pegang teguh dalam setiap tindakan yang beliau ambil. Misalnya saja, setelah menandatangani persetujuan gencatan senjata dengan Belanda, Jendral Sudirman menghormati semua aspek yang telah disetujui kedua belah pihak, walaupun perjanjian tersebut ternyata banyak merugikan negara Indonesia. Dengan prinsipnya tersebut, beliau juga menenangkan pasukannya untuk mengambil sikap bijaksana. Ternyata, pihak musuhlah yang lebih dulu melanggar gencatan senjata yang telah disepakati, dengan melaksanakan Agresi II.

Mencintai rakyat.

Kecintaan Pak Dirman pada Rakyat telah terbentuk jauh sebelum beliau menjadi pemimpin bangsa. Dengan pengetahuan, tenaga, kemampuan yang dimiliki, Soedirman muda yang waktu itu sudah menjadi tokoh masyarakat setempat berupaya membantu rakyat tidak hanya dalam bidang pendidikan (mengajar di sekolah rakyat), tapi juga dalam hal kepemimpinan (melalui organisasi pandu yang beliau pimpin), dan ekonomi (melalui kegiatan koperasi yang beliau rintis). Kecintaan pada rakyat terus berlanjut ketika beliau memasuki masa dinas ketentaraan. Jendral Soedirman sadar bahwa rakyat pada awal berdirinya Republik Indonesia banyak mengalami tekanan baik secara ekonomi, politik, maupun sosial. Beliau juga paham bahwa Tentara Republik Indonesia tidak bisa berjuang sendirian untuk membangun bangsa. Untuk itu Pak Dirman dan pasukan berjuang untuk dan bersama rakyat. Perjuangan rakyat yang pada awalnya cenderung terkotak-kotak berdasarkan idealisme dan kedaerahan dihimbau untuk bersatu melawan musuh yang ingin kembali bertakhta, sambil berupaya terus membangun bangsa walaupun dengan sarana yang terbatas.

Bijak.

Seperti layaknya seorang pemimpin besar, Pak Dirman terkenal sebagai sosok pemimpin yang bijak, baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak. Ketika Presiden Soekarno memerintahkan Jenderal Soedirman dan Pasukan untuk "mundur" sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Renville, sang jendral tidak langsung protes. Dengan saksama Jendral Soedirman memikirkan cara terbaik untuk menjalankan perintah tersebut tanpa mematahkan semangat anak buah yang mungkin saja merasa harga diri mereka terinjak-injak karena harus mundur. Kemudian, sang pemimpin besar memerintahkan anak buahnya dengan kata-kata yang bijak namun tegas untuk "hijrah" dari garis belakang pasukan Van Mook. Masa "hijrah" ini digunakan Jendral Besar Soedirman dan pasukannya untuk membangun strategi dan menyusun kekuatan yang lebih besar.

Teguh.

Keteguhan hati Pak Dirman sudah terlihat sejak masa beliau aktif di kepanduan. Pada suat kegiatan kepanduan di padang terbuka di daerah pegunungan, banyak peserta yang menyerah pada hawa dingin dan bergegas pulang. Tidak demikian dengan Soedirman muda yang teguh bertahan di medan yang dingin untuk menyelesaikan tugas yang telah dibebankan kepadanya. Keteguhan ini juga diperlihatkan beliau pada masa bergerilya. Walaupun kondisi fisik lemah, Jenderal Soedirman tetap teguh mendampingi pasukannya di lapangan untuk menyusun kekuatan mengusir musuh. Keteguhan ini merupakan salah satu kualitas yang membuat berbagai pihak hormat dan percaya kepada pemimpin bangsa yang satu ini. Perjuangan Jenderal Soedirman menunjukkan bahwa prinsip, kecintaan pada rakyat, sikap bijak, dan keteguhan hati yang senantiasa dilandaskan pada niat yang suci merupakan landasan penting dalam bertindak.



Soedirman Kecil

Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem, berasal dari Rawalo, Purwokerto. Mereka adalah keluarga petani. Sejak masih bayi, Soedirman telah diangkat sebagai anak oleh R.Tjokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) di Rembang, Distrik Cahyana, Kabupaten Purbalingga, yang kawin dengan bibi Soedirman. Setelah pensiun, keluarga Tjokrosunaryo kemudian menetap di Cilacap. Dalam usia tujuh tahun Soedirman memasuki Hollandsche Inlandsche School (HIS) setingkat Sekolah Dasar di Cilacap. Dalam kehidupan yang sederhana, R. Tjokrosunaryo mendidik Soedirman dengan penuh disiplin. Soedirman dididik cara-cara menepati waktu dan belajar menggunakan uang saku sebaik-baiknya. Ia harus bisa membagi waktu antara belajar, bermain, dan mengaji. Soedirman juga dididik dalam hal sopan santun priyayi yang tradisional oleh Ibu Tjokrosunaryo.

Soedirman Remaja

Pada tahun 1930, Soedirman tamat dari HIS. Pada tahun 1932 Soedirman memasuki Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) setingkat SLTP. Setahun kemudian, is pindah ke Perguruan Parama Wiworo Tomo dan tamat pada tahun 1935. Di sekolah, Soedirman termasuk murid yang cerdas dan rajin mengikuti pelajaran yang diajarkan gurunya. Soedirman menunjukkan minatnya yang besar pada pelajaran bahasa Inggris, ilmu tata negara, sejarah dunia, sejarah kebangsaan, dan agama Islam. Demikian tekunnya Soedirman mempelajari agama Islam sehingga oleh teman-temannya diberi julukan "kaji".
Soedirman Menjadi Pandu
Ia juga aktif di organisasi kepanduan (sekarang Pramuka) Hizbul Wathon (HW) yang diasuh oleh Muhammadiyah. Melalui kegiatan kepanduan ini, bakat-bakat kepemimpinan Soedirman mulai kelihatan. Ia ternyata seorang pandu yang berdisiplin, militan, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat ketika Hizbul Wathon mengadakan jambore di lereng Gunung Slamet yang terkenal berhawa dingin. Pada malam hari udara sedemikian dinginnya, sehingga anak-anak HW tidak tahan tinggal di kemah. Mereka pergi ke rumah penduduk yang ada di dekat tempat tersebut,hanya Soedirman sendiri yang tetap tinggal di kemahnya.

Soedirman Guru Sekolah, Ketua Koperasi, Anggota Legislatif

Setelah lulus dari Parama Wiworo Tomo, ia menjadi guru di HIS Muhammadiyah. sebagai seorang guru, Soedirman tetap aktif di Hizbul Wathon. Pada tahun 1936, Soedirman memasuki hidup baru. Ia menikah dengan Siti Alfiah, puteri Bapak Sastroatmodjo, dari Plasen, Cilacap yang sudah dikenalnya sewaktu bersekolah di Parama Wiworo Tomo. Dari perkawinan ini, mereka dikaruniai 7 orang anak. Pada awal pendudukan Jepang, Sekolah Muhammadiyah tempat is mengajar ditutup. Berkat perjuangan Soedirman sekolah tersebut akhirnya boleh dibuka kembali. Kemudian Soedirman bersama beberapa orang temannya mendirikan koperasi dagang yang diberi nama Perbi dan langsung diketuainya sendiri. Dengan berdirinya Perbi, kemudian di Cilacap berdiri beberapa koperasi yang mengakibatkan terjadi persaingan kurang sehat. Melihat gelagat ini, Soedirman berusaha mempersatukannya, dan akhirnya berdirilah Persatuan koperasi Indonesia Wijayakusuma. Kondisi rakyat pada waktu itu sulit mencari bahan makanan, sehingga keadaan ini membangkitkan semangat Soedirman untuk aktif membina Badan Pengurus Makanan Rakyat (BPMR), suatu badan yang dikelola oleh masyarakat sendiri, bukan badan buatan Pemerintah Jepang. Badan ini bergerak dibidang pengumpulan dan distribusi bahan makanan untuk menghindarkan rakyat Cilacap dari bahaya kelaparan. Ia termasuk tokoh masyarakat karena kecakapan memimpin organisasi dan kejujurannya. Pada tahun 1943, Pemerintah Jepang mengangkat Soedirman menjadi anggota Syu Songikai (semacam dewan pertimbangan karesidenan) Banyumas.

Soedirman Memasuki Dunia Militer

Pada pertengahan tahun 1943, tentara Jepang mulai terdesak oleh Sekutu. Pada bulan Oktober 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (Peta). Soedirman sebagai tokoh masyarakat ditunjuk untuk mengikuti latihan Peta angkatan kedua di Bogor. Selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di Kroya, Banyumas. Disanalah Soedirman memulai karirnya sebagai seorang prajurit. Sebagai komandan, Soedirman sangat dicintai oleh bawahannya, karena is sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Ia tidak takut menentang perlakuan buruk opsir-opsir Jepang,yang menjadi pelatih dan pengawas batalyonnya.


Sesudah terjadi pemberontakan Tentara Peta Blitar pada bulan Pebruari 1945, Jepang mengadakan observasi terhadap para perwira Peta. Mereka yang bersikap menawan (recalcitrant), dikategorikan berbahaya. Pada bulan Juli 1945, Soedirman dan beberapa orang perwira Peta lainnya yang termasuk kategori "berbahaya" dipanggil ke Bogor dengan alasan akan mendapat latihan lanjutan. Hanya kemudian ada kesan bahwa Jepang berniat untuk menawan mereka. Sekalipun mereka sudah berada di Bogor "Pelatihan Lanjutan" dibatalkan, karena tunggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Sesudah itu Soedirman dan kawan-kawannya kembali lagi ke dai dan masing-masing. Pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandang
kan, Soedirman berada di Kroya. Esok harinya tanggal 18 Agustus 1945. Jepang membubarkan Peta dan senjata mereka dilucuti, selanjutnya mereka disuruh pulang ke kampung halaman masing-masing. Setelah pengumuman pembentukan BKR, Soedirman berusaha mengumpulkan mereka kembali dan menghimpun kekuatan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Bersama Residen Banyumas Mr. Iskaq Tjokroadisurjo dan beberapa tokoh lainnya, Soedirman melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang secara damai. Komandan Batalyon Tentara Jepang Mayor Yuda menyerahkan senjata cukup banyak. Karena itu BKR Banyumas merupakan kesatuan yang memiliki senjata terlengkap.

Pemilihan Unik Panglima Besar Jenderal Soedirman



Sewaktu Tentara Sekutu, yang diwakili oleh Inggris dengan dibuntuti oleh Belanda dibelakangnya mendarat, dan mereka menuntut senjata Jepang kembali dari tangan kita, maka meletuslah dimana-mana pertempuran-pertempuran baru. Dulu dengan Jepang, kini dengan Sekutu. Kita tidak sudi menyerahkan kembali senjata yang kita rebut itu. Pertempuran-pertempuran baru tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di Semarang, dan yang terbesar serta paling lama adalah di kota Surabaya, dari 28 hingga 30 Oktober 1945, dan dari 10 hingga 30 Nopember 1945. Soedirman yang pada waktu itu diangkat oleh Pemerintah sebagai Panglima Divisi Sunan Gunung Jati atau Divisi V, dan yang bertanggungjawab untuk daerah Banyumas dan Kedu, menghadapi juga serangan-serangan Inggris yang datang dari jurusan Semarang menuju ke Ambarawa dan Banyubiru. Berkat semangat kepemimpinan Soedirman tentara Inggris dapat dienyahkan. Dalam suasana demikian itulah Kolonel Soedirman dipilih sebagai Panglima Besar. Yang memilih adalah para Panglima Divisi dan Komandan Resimen yang berkumpul di Yogyakarta pada tanggal 12 Nopember 1945. Pangkatnya sejak itu adalah Jenderal. Dalam pemilihan itu beliau mengalahkan colon-colon lain. Ditinjau dari pendidikan kemiliteran, maka calon-calon lain itu jauh lebih tinggi dari Jenderal Soedirman. Pemilihan yang unik ini mencerminkan Zeitgeist atau "Semangat Zaman" waktu itu. Yaitu semangat revolusi dimana-mana. Rakyat kita seakan-akan terserang demam. Demam revolusi. Semangat perjuangan revolusioner di mana-mana berkobar. Dikobarkan dalam rapat-rapat umum, yang diselenggarakan oleh kaum politisi kita dari zaman Pergerakan, dan oleh alat-alat Pemerintahan yang baru dibentuk, dan karenanya kurang sempurna. Di mana-mana rakyat kita giat merombak sistem kolonialisme Hindia-Belanda dan sistem militerisme Jepang. Rakyat muak terhadap kedua sistem kolonialisme dan militerisme masa Iampau itu. Rakyat tidak sabar lagi, dan di dalam usaha merombak sistem lama itu, tidak jarang timbul gejolak kekacauan. Serobot-menyerobot, daulat mendaulat dan malahan culik-menculik adakalanya terjadi. Siapa yang menjalani sendiri situasi pada waktu itu, benar-benar merasa adanya revolusi, adanya perubahan cepat kilat yang sedang berlaku. Terutama di kalangan pemuda kita. Seringkali perubahan cepat itu tanpa aturan "normal". Kadangkadang malahan "anarchistis" sama sekali. Irosionalitas dan emosionalitas seringkali mengatasi rasionalitas dan pikiran dingin. Memang itulah revolusi ! Eine Umwertung aller Werte. Penjungkirbalikkan segala macam nilai. Suatu "razende inspirasi van de historie". Suatu "ilham yang memandang daripada sejarah". Dan "ilham sejarah" itu adalah "titik temu dari segala apa yang merupakan kesadaran bangsa dengan apa yang hidup di bawah kesadaran sejarah bangsa itu. "He ontmoetingspunt, van het vewuste en het onderbewuste in de geschiedenis!" Pilihan atas Panglima Besar Soedirman jatuh dalam situasi demikian. Banyak emosi di bawah sadar ikut menentukan pilihan itu. Banyak pikiran rasionalistis tidak berkenan masuk dalam pertimbangan pilihan tersebut. Memang revolusi mempunyai nilai-nilai sendiri. Apalagi revolusi yang berwatak kerakyatan, seperti revolusi kita dulu itu. Setuju atau tidak setuju, realitanya ialah bahwa nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatis dan getaran-mistis ikut menentukan jalannya revolusi kita pada waktu itu. Juga dalam pemilihan Panglima Besar RI untuk pertama kalinya, nilai-nilai tersebut ikut menentukan. Sudah barang tentu nilai-nilai rasional dan pikiran dingin hidup Juga pada waktu itu. Namun yang lebih menonjol dan lebih kuat adalah nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatik dan getaran mistis tersebut di atas. Dan itulah yang kemudian bermuara ke dalam keputusan mengangkat Soedirman sebagai Panglima Besar. Yang terpilih bukan calon yang memiliki kadar rasionalitas dan ketrampilan militer teknis yang tinggi, produk dari didikan Barat di kota-kota besar, melainkan yang terpilih adalah seorang anak rakyat, dibesarkan di desa, yang kemudian oleh gelombang revolusi terlempar ke atas, dan merupakan tonggak kepercayaan mayoritas para panglima divisi dan para komandan resimen yang hadir pada waktu itu. Susunan divisi serta resimen tentara kita pada waktu itu jauh dari sempurna. Markas-markas pun belum menentu, dan seringkali harus berpindah-pindah. Para Panglima Divisi serta para komandan resimen pun tidak semuanya memiliki kepandaian kemiliteran-teknis yang sempurna, seperti menurut ukuran-ukuran Barat. Kepandaian kemiliterannya boleh diragukan, namun yang tidak dapat diragukan adalah semangat dan jiwa perjuangannya membela Proklamasi, melawan kembalinya kolonialisme. Andaikata pilihan jabatan Panglima Besar pada waktu itu diserahkan kepada Pemerintah Pusat, maka besar sekali kemungkinan bahwa pilihan tidak akan jatuh kepada Soedirman. Dan memang, Pemerintahan yang pada waktu itu kekuasaan eksekutifnya berada di tangan PM Sjahrir menginginkan tokoh lain. Di antaranya Urip Sumohardjo, seorang tokoh militer didikan Belanda, tetapi berjiwa patriotik. Juga dikemukakan Sri Sultan Hamengku Buwono, yang pada waktu itu mendapat pangkat Jenderal Tituler. Dalam rapat para Panglima Divisi dan Komandan Resimen disebut juga nama-nama Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, yang duduk sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Sjahrir. Rupanya pola menempatkan pimpinan ketentaraan di bawah kekuasaan sipil-politis pada waktu itu hendak diterapkan oleh kaum politisi. Namun mayoritas hadirin memilih Soedirman. Suatu hal yang unik dalam revolusi kita. Panglima Besar yang pertama tidak diangkat oleh Pemerintah, melainkan dipilih secara "demokratis" oleh para panglima divisi dan komandan resimen. Itulah suasana revolusioner pada waktu itu. Itulah juga Zeit-geist-nya, atau "semangat zaman" revolusioner yang penuh dengan jiwa kerakyatan. Elan revolusioner yang meletus keluar ke atas permukaan masyarakat kita yang sedang bergolak mencerminkan diri dalam hasil pemilihan tersebut. Elan revolusioner tersebut mempercayakan kepemimpinan tentara kita kepada seorang pribadi Soedirman. (Dr. H. Roeslan Abdulgani Peranan Panglima Besar Soedirman dalam Revolusi Indonesia, Restu Agung, Jakarta, 2004, hal.32-35.

Soedirman Wafat




Tanggal 29 Januari 1950 Soedirman wafat, berita tentang wafatnya Soedirman, yang disiarkan berulang-ulang oleh Radio. Menyusul perintah Harlan Pejabat Kepala Staf Angkatan Perang RIS, Kolonel T.B. Simatupang yang ditujukan kepada seluruh tentara berisi Seluruh Angkatan Perang RIS diperintahkan berkabung selama tujuh hari dengan melaksanakan pengibaran benders Merah Putih setengah tiang pada masing-masing kesatuan dijalankan dengan penuh khidmat serta hormat, menjauhkan segala tindakan dan tingkah laku yang dapat mengganggu suasana berkabung. Pemerintah mengumumkan Hari Berkabung Nasional sehubungan dengan wafatnya Panglima Besar Soedirman, dan dalam pidatonya Perdana Menteri RIS Bung Hatta mengumumkan keputusan Pemerintah RIS untuk menaikkan pangkat Letnan Jenderal Soedirman secara anumerta menjadi Jenderal. Pukul 11.00 tanggal 30 Januari 1950, iring-iringan jenazah Panglima Besar Jenderal Soedirman perlahan-lahan meninggalkan kota Magelang menuju Yogya. Setelah disembahyangkan di Masjid Agung, jenazah dikebumikan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta, disamping makam Letnal Jenderal TNI Oerip Soemoharjo.

Kata-kata Mutiara Sudirman


Yogyakarta 12 November 1945
Tentara hanya memiliki kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya, tunduk kepada perintah pimpinannya itulah yang merupakan kekuatan dari suatu tentara. Bahwa negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapapun juga.
Diucapkan dihadapan konferensi TKR dan merupakan amanat pertama kali sejak menjabat sebagai Pangsar TKR. Yogyakarta , 1Januari 1946


Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu "kasta" yang berdiri di atas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.
Amanat yang tertuang dalam maklumat TKR. Yogyakarta 17 Pebruari 1946


Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara.
Amanat dalam rangka memperingati setengah tahun kemerdekaan RI. Yogyakarta 9 April 1946


Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada yang menyalahi janji, menjadi pengkhianat nusa, bangsa dan agama, harus kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tertentu memakan korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela temanmu yang telah gugur sebagi ratna, lagi pula untuk membela nusa, bangsa dan agamamu, sumpah wajib kamu tepati, sekali berjanji kamu tepati.
  • Percaya kepada kekuatan sendiri
  • Teruskan perjuangan kamu.
  • Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.
  • Tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat dan perbuatan menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali.
  • Pegang teguh disiplin tentara lahir dan batin jasa pahlawan kita telah tertulis dalam buku sejarah Indonesia, kamu sekalian sebagai putera Indonesia wajib turut mengisi buku sejarah itu.
Amanat dalam rangka peresmian status kedudukan TRI bagian udara sejajar dengan TRI lainnya. Yogyakarta 25 Mei 1946.


Sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah yang penghabisan. Sanggup taat dan tunduk pada Pemerintah Negara Republik, yang menjalankan kewajibannya, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya sebulat-bulatnya. Sejengkal tanahpun tidak akan kita serahkan kepada lawan, tetapi akan kita pertahankan habis-habisan...................... Meskipun kita tidak gentar akan gertakan lawan itu, tetapi kitapun harus selalu siap sedia.
Amanat dihadapan presiden/panglima tertinggi APRI untuk mengikrarkan sumpah anggota pimpinan tentara. Yogyakarta 27 Mei 1945



Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah ! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah ! Tentara akan hidup sampai akhir jaman, tentara akan timbul dan tenggelam bersama negara !

Such a Romantic Story

Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto dikenal memiliki pembawaan yang tenang dan penuh wibawa. Ketenangannya membuat banyak pejabat segan akan sosok mantan Panglima Kostrad itu.

Namun, ada satu momen yang membuat Soeharto minder dan gamang akan dirinya sendiri. Itulah detik-detik menjelang Soeharto muda meminang seorang gadis bernama Siti Hartinah atau yang biasa disapa "Tien".

Soeharto saat itu baru berusia 26 tahun dan memiliki karir di militer yang cemerlang. Bibinya, Ibu Prawiro gelisah karena Soeharto belum juga memiliki istri.

Pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 itu pun langsung menjawab bahwa dia masih ingin melakukan perjuangan. Sang bibi protes. Menurut dia, pernikahan tidak perlu terhalang oleh perjuangan. Ibu Prawiro lalu menyebutkan sebuah nama.

"Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?" tanya sang bibi seperti dikisahkan pada buku "Falsafah Cinta Sejati Ibu Tien dan Pak Harto".

Soeharto pun mengiyakan. "Tetapi bagaimana bisa? Apa dia akan mau? Apa orang tuanya memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran," jawab Soeharto ragu-ragu.

Namun, keraguan itu langsung ditepis Ibu Prawiro dan menyatakan dia mengenal keluarga Hartinah dan akan menjodohkan Soeharto dengan putri dari RM Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmati Hatmohoedojo itu.

Meski sudah mengenal Hartinah sejak SMP, keraguan Soeharto masih juga belum sirna. Dia gamang karena takut lamarannya nanti ditolak lantaran dirinya yang hanya masyarakat biasa sementara Hartini berasal dari keluarga bangsawan.

Semua keraguan Soeharto akhirnya terjawab. Ternyata, orang tua Hartinah tak memandang latar belakang dan langsung menyetujui lamaran dari seorang perwira muda ini.

Dari banyak lamaran yang diajukan kepada Hartinah, rupanya hanya Soeharto yang memikat hati perempuan kelahiran Surakarta, 23 Agustus 1923 itu.

Pernikahan pun dilangsungkan pada 26 Desember 1947 di Solo, sore hari. Pernikahan disaksikan keluarga dan teman-teman Hartinah. Cukup banyak jumlah tamu dari keluarga Soemoharjono yang datang. Sementara Soeharto hanya datang bersama sepupunya, Sulardi dan kakaknya.

Resepsi dilakuan pada malam harinya, hanya diterangi lampu dan beberapa lilin yang redup. Malam pertama mereka diwarnai dengan jam malam yang diterapkan karena khawatir adanya serangan Belanda.

Tak ada bulan madu bagi mereka karena tiga hari setelah pernikahan, Soeharto harus kembali ke Yogyakarta untuk berdinas. Mereka pun tinggal di Jalan Merbabu Nomor 2.

Seminggu setelah itu, Soeharto harus meninggalkan sang istri karena ditugaskan ke Ambarawa untuk menghadapi serangan Belanda dari Semarang. Tiga bulan lamanya Soeharto meninggalkan istri tercintanya.

Perginya belahan jiwa

Kisah kasih Soeharto dan Ibu Tien terbilang cukup unik. Sebagai istri prajurit, Ibu Tien harus terbiasa hidup mandiri.

Meski jarak kerap memisahkan mereka, kasih Soeharto kepada istrinya begitu besar. Hal ini terlihat Soeharto tampil membela proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang digagas Ibu Tien.

Ketika itu, pembanggunan TMII banyak diprotes karena dianggap tak bermanfaat dan mubazir. Setelah sepuh, Soeharto dan Tien sering menghabiskan waktu di tempat itu hingga maut memisahkan mereka.

Pada 28 April 1996, Ibu Tien meninggal dunia. Soeharto pun larut dalam kesedihan yang dipendamnya sendiri.

Untuk melepas rindu dengan belahan hatinya itu, Soeharto kerap meminta anak-anaknya untuk mengantarnya ke TMII. Di sana, Soeharto hanya duduk terdiam dan memegang tongkat jalannya.

"Walau bicaranya sudah tidak jelas, tapi saya bisa mengerti isi perkataan beliau. Pak Harto bilang, 'Saya rindu pada Ibu. Dan setiap saya merindukan Ibu, Taman Mini ini yang membuat kerinduan saya terobati'," kata Bambang Sutanto, mantan pimpinan TMII, menirukan ucapan Soeharto.

*****

sumber: kompas.nasional.com

Radio Pertama Indonesia

Amatir Radio Pertama Indonesia di Jaman Penjajahan dan Perang Kemerdekaan


Dulu pada saat berdirinya International Amateur Radio Union (IARU) tahun 1925, wilayah nusantara yang masih dikuasai oleh Belanda, dan pada saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia Pertama. Pada saat itu, komunikasi antara Netherland dengan Hindia Belanda (julukan untuk wilayah Nusantara) hanya mengandalkan saluran kabel Laut yang melintas Teluk Aden yang dikuasai oleh Inggris.
Timbul kekhawatiran Belanda atas saluran komunikasi tersebut, mengingat Inggris terlibat dalam Perang Dunia Pertama tersebut sedangkan Belanda ingin bersikap netral. Oleh karenanya, dilakukanlah berbagai percobaan dengan menempatkan beberapa stasiun relay di Malabar, Sumatra, Srilangka dan beberapa tempat lagi.
Radio Malabar, berdiri tanggal 5 Mei 1923, merupakan pemancar yang menggunakan teknologi arc transmitter terbesar di dunia. Tampak pada gambar di bawah kiri adalah dua buah arc transmitter yang besar dengan kekuatan 2400kW yang dibuat oleh Klaas Dijkstra yang bekerja untuk Dr. Ir. De Groot. Input power pemancar Radio Malabar adalah 3,6 MegaWatt dan bekerja pada frekuensi 49.2kHz dengan panjang gelombang 6100m dengan menggunakan callsign PMM. Daya untuk pemancar Radio Malabar dibangkitlan oleh sebuah pembangkit tenaga air buatan Amerika yang terletak di Pengalengan dengan tegangan 25kV.
Bangunan Tempat Radio Malabar
Pemancar Radio Malabar Terbesar di Dunia
Ilustrasi dan Penarikan Kabel diantara Gunung
Gambar atas –> ilustrasi berg-antenna, tampak kecil bangunan Stasiun Radio Malabar dengan antenna berupa 5 kawat berjajar yang membentang diantara gunung Malabar dan gunung Halimun.
Gambar bawah –> foto suasana saat pemasangan berg-antenna.
Radio Malabar merupakan cikal bakal amatir radio di Indonesia dan merupakan radio pertama di Indonesia untuk komunikasi jarak jauh. Frekuensi yang digunakan masih sangat rendah dalam panjang gelombang sangat panjang, tidak mengherankan jika antenna yang digunakan harus dibentangkan memenuhi gunung Malabar di Bandung Selatan. Sisa-sisa Radio Malabar masih terdapat di sana, yaitu berupa tiang-tiang antena-antena besar dan tinggi di tengah hutan.
Dari pengamatan di lokasi, nampaknya bangunan gedung Stasiun Radio Malabar dibuat menghadap ke negeri Belanda. Lalu antenna ditarik sloop ke atas agar menghasilkan arah pancaran ke negeri Belanda, dengan lembah diantara dua pengunungan tersebut sebagai reflektornya. Sunggguh karya perencanaan kerja yang luar biasa.
Bangunan Radio Malabar Tahun 2013
Tepat pada tanggal 05 Mei 1923 Radio pertama di Indonesia Radio Malabar diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jendral Belanda Dirk Fock. Selanjutnya pemancar radio ini menandai dimulainya kegiatan Komunikasi Radio di Indonesia. Meskipun kini Radio Malabar tinggal puing-puing, namun sejarahnya patut kita apresiasi sebagai sebuah momen dari awal kegiatan teknik radio di tanah air kita.
Pada tahun 1925, Prof. Dr. Ir. Komans di Netherland berhasil melakukan komunikasi dengan Dr. Ir. De Groot yang menggunakan Radio Malabar di Pulau Jawa. Kejadian ini merupakan titik tolak masuknya Komunikasi Radio di Indonesia, dan Pemerintah Hindia Belanda mendirikan B.R.V. (Batavian Radio Vereneging) dan NIROM.
Para teknisi yang bekerja di kedua instansi ini umumnya adalah orang Belanda dan ada beberapa Bumi putra, terus menekuni sistem komunikasi radio dengan melakukan koordinasi dan eksperimen bersama para Amatir Radio di dunia. Mereka membentuk sebuah perkumpulan yang dikenal dengan nama Netheland Indice Vereneging Radio Amateur (NIVIRA).
Seorang anggota NIVIRA Bumi Putra dengan Callsign PK2MN, memanfaatkan kemampuannya dalam teknik elektronika radio untuk membakar semangat kebangsaan dengan mendirikan stasiun radio siaran yang diberi nama Solose Radio Vereneging (SRV) yang ternyata mendapat simpati rakyat.
Keberhasilan ini ditiru oleh beberapa Anggota NIVIRA Bumi putra dengan mendirikan stasiun radio siaran serupa, antara lain MARVO–CIRVO–VORO–VORL. Pada tahun 1937, mereka bergabung dengan membentuk Persatoean Perikatan Radio Ketimoeran (PPRK). Perhimpunan ini tidak dilarang oleh kolonial Belanda karena dengan banyaknya masyarakat memiliki pesawat penerima radio maka mereka akan dapat memungut pajak radio sebanyak­-banyaknya.
Era pendudukan Jepang di Nusantara telah memusnahkan seluruh perangkat komunikasi radio dan radio siaran yang ada, NIROM dikuasai dan diganti namanya menjadi Hoso Kanry Kyoku, dan kegiatanAmatir Radio dilarang. Akan tetapi, Amatir Radio Bumi Putra tetap berjuang dengan melakukan kegiatan secara sembunyi­-sembunyi guna menunjang perjuangan kemerdekaan dengan membentuk Radio Pejuang Bawah Tanah, dan tak sedikit Amatir Radio yang dipenggal karena dituduh sebagai mata­-mata Sekutu.

Sumber: willrahman.blog

Kejahatan Cyber bersumber Wifi

Kejahatan Cyber Melalui Jaringan Wifi


Hacking
Sebuah kebiasan yang sering kita lakukan terutama mahasiswa yang mulai masuk tanggal tua itu biasanya suka memanfaatkan fasilitas kampus yang ada kayak lab dengan fasilitas internet yang lumayan ngebut, jaringan wifi yang lumayan juga tapi kadang suka kehabisan IP :v adalah datang lebih awal ke kampus padahal gak ada jam kuliah pagi :v . Tujuannya si simple, cuman pengen dapetin IP biar gak kehabisan kalo  masuk siang mah :v.
Tanpa kita sadari, ternyata kebiasaan tersebut bisa menimbulkan prolem yang lumayan dan mungkin sangat besar untuk kita. Di dalam jaringan wifi yang kita pakai, otomatis memiliki IP Address dan tersambung pada suatu server. Nah di dalam wifi tersebut penjahat cyber atau yang lebih kerennya adalah Hacking dapat masuk ke dalam jaringan wifi yang kita masukin juga dan dapat meng-otak-atik jaringan yang kita pakai.
Salah satu berita yang menyatakan kejahatan cyber di Okezone.com meberitakan efek dari kejahatan cyber atau hacking seperti berikut.
Symantec merilis Norton Report 2013 untuk memahami cara kejahatan cyber mempengaruhi konsumen, cara penerapan dan evolusi teknologi baru berdampak pada keamanan masyarakat.
Dari laporan Norton Report terungkap bahwa pengguna perangkat mobile(smatrphone, tablet), jejaring sosial, dan WiFi di area umum, merupakan sasaran para penjahat cyber.
Norton Report 2013 mengungkapkan bahwa 41 persen responden mengalami kejahatan cyber dalam 12 bulan terakhir. Symantec melakukan studi di 24 negara dengan 13 ribu responden berusia 18-64 tahun.
Dari laporan diketahui bahwa perangkat mobile yakni smartphone dan tablet juga menjadi media bagi para penjahat cyber melakukan aksinya. 63 persen responden diketahui memiliki smartphone dan 30 persen tablet.
38 persen dari pengguna smartphone pernah mengalami kejahatan cyber, tetapi sayangnya hanya 33 persen diantaranya yang memiliki software free security. Sedangkan pengguna tablet yang memiliki software keamanan lebih tinggi yakni 42 persen.
Secara keseluruhan, 57 persen pengguna perangkat mobile tidak peduli tentang solusi keamanan. Selain itu, kelalaian pengguna jejaring sosial juga bisa menyebabkan timbulnya kejahatan cyber.
Pasalnya, 39 persen pengguna jejaring sosial tidak me-log out akun mereka, 25 persen memberitahu password kepada orang lain, dan 31 persen berteman dengan orang asing.
“Jejaring sosial, terutama Facebook sangat terkenal, termasuk di Indonesia. Tapi disana (jejaring sosial) juga banyak ancaman cyber, karena itu kita harus waspada, seperti harus berhati-hati dengan password,” tutur Product Marketing Manager, Consumer & Small Business Asia Regional Marketing Symantec Philip Routley di Jakarta, Kamis (17/10/2013).
Kejahatan cyber di jejaring sosial, misalnya, ditemukan cukup banyak akun Facebook palsu dan penipuan lainnya untuk menghasilkan uang. “Penjahat cyber sekarang lebih pintar, kalau dulu kita bisa langsung tahu, tapi sekarang setelah ada korban baru kita tahu,” jelas Consumer Sales Manager Symantec Indonesia Rita Nurtika.
Pengguna internet juga diharus berhati-hati menggunakan WiFi di area umum. Sangat ditekankan untuk tidak menggunakan informasi pribadi dan penting saat menggunakan WiFi di area umum, karena bisa menjadi incaran para penjahat cyber.
Sayangnya, 59 persen orang dewasa justru menggunakan WiFi umum dan tak aman. Selain itu juga diketahui 54 persen mengakses email, 56 persen mengakses jejaring sosial, 29 persen dilakukan untuk berbelanja online, dan 29 persen digunakan untuk mengakses akun bank menggunakan WiFi di area umum dan itu termasuk tidak aman
Jadi mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati lagi karena menurut penjelasan di atas kajahatan dilakukan saat kita menggunakan akses WiFi dan tidak melakukan log out pada akun yang kita gunakan
Sumber : http://techno.okezone.com

Tokoh Teknologi asal Indonesia

5 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Bidang Teknologi Informasi di Indonesia

Semakin berkembangnya Teknologi dan Informatika di Indonesia tak lepas dari campur tangan para tokoh penting dan para anak bangsa yang banyak berkontribusi dalam perkembangan dunia Teknologi dan Informatika di Negeri berlambang Burung Garuda ini. Kontribusi para tokoh penting di Indonesia ini juga tak hanya sebentar karena butuh waktu yang cukup lama untuk memberi pengaruh perubahan dalam dunia Teknologi dan Informatika . Dan artikel yang akan saya bahas kali ini akan membahas seputar Tokoh-tokoh Penting di Indonesia Bidang Informatika. Tetapi disini saya hanya akan memasukan 5 daftar Tokoh penting yang paling berpengaruh di Indonesia Bidang Teknologi dan Informasi. Berikut daftar 5 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Bidang Informasi di Indonesia.

1. Onno W Purbo (Bapak Internet Indonesia)

Onno Widodo Purbo
Tokoh Indonesia pertama yang paling berpengaruh di bidang Informatika ini adalah Onno W Purbo pria kelahiran 17 Agustus 1962, Bandung ini di kenal sebagai Profersor di ITB. Dia juga di kenal sebagai ahli/pakar di bidang Teknologi Informasi di Indonesia, banyak kontribusi yang ia berikan terhadap kemajuan Teknologi Informasi di Indonesia. Salah satu gagasan yang paling terkenalnya adalah RT/RW-Net yang mengukir Sejarah Internet Indonesia. Ia juga aktif menulis di bidang teknologi informasi di berbagai media, berbagai seminar dan konferensi nasional maupun internasional terutama untuk memberdayakan masyarakat indonesia berbasis pengetahuan. Salah satu website referensi yang recomend dari dia salah satunya opensource.telkomspeedy.com
2. I Made Wiryana
http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2012/10/25/2194974_20121025104131.jpg
Di urutan ke 2, Tokoh paling berpengaruh bagi dunia Informatika Indonesia ini adalah I Made Wiryana seorang tokoh Indonesia yang terkenal di kalangan pengguna Sistem Operasi (Open Source) Linux di Indonesia. Berawal dari cerita di saat dia melanjutkan pendidikan S2 nya di Australia karena keharusannya menggunakan software original yang berbayar dia berusaha untuk mencari alternatif Software yang bersifat open source yaitu Linux di awal menggunakan Linux dia masih awam dengan OS itu kemudian ia pun mencari beberapa referensi untuk memperdalam ilmunya dan hingga sekarang dia semakin ahli hingga terkenal sebagai pakar dalam bidangnya.
3. Romi Satrio Wahono

Di urutan ke tiga ini ada Seorang peneliti sekaligus founder IlmuKomputer.com salah satu website yang menjadi kontribusi besar bagi para masyarakat Indonesia yang ingin belajar serta membagikan beberapa ilmunya di website tersebut. Selain menjadi peneliti di juga aktif sebagai dosen serta menjadi pembicara di setiap seminar bidang Teknologi Informasi. Berbagai penghargaan dari Pemerintah Indonesia dan Dinas Pendidikan lewat kontribusi nya memberikan pembelajaran mengenai ilmu komputer kepada masyarakat Indonesia melalui website atau beberapa referensi yang di buatnya.

4. Budi Raharjo

Di urutan ke empat ini ada seorang Profesional Bidang IT sekaligus Blogger yaitu Budi Raharjo mempunyai lebih dari belasan blog dengan domain yang berbeda. Dia merupakan blogger Indonesia dengan kemampuan teknologi yang tidak diragukan lagi. Memulai karir di dunia maya sejak duduk di bangku kuliah di ITB, Budi kemudian mengembangkan kemampuannya dengan menapaki jenjang karir yang berbeda-beda. Memang sudah cukup banyak kontribusi yang ia berikan di dunia internet Indonesia.


5. Jim Geovadi

Dan di urutan terakhir ini mungkin sudah tak asing lagi bagi para hacker Indonesia maupun para profesional IT Security ialah Jim Geovedi. Seberapa pengaruh kah dia dalam hal perkembangan Teknologi Informasi Indonesia! mungkin banyak pengguna IT di Indonesia bisa berbangga karena keberadaannya pria berkacamata ini terkenal lewat aksinya yang bisa meretas sebuah satelit serta mengubah arah atau rotasi satelit itu. Dia salah satu dari banyak Inspirator tokoh Indonesia yang bisa memberi semangat bagi para penerus bangsa yang ingin mendalami ilmu bidan Teknologi Informasi.

Iyak itulah tadi beberapa tokoh penting Indonesia dalam bidang Teknologi Informasi, semoga para tokoh penting diatas bisa menjadi inspirasi maupun semangat bagi para Mahasiswa yang Kuliah Jurusan Informatika maupun pengguna IT, untuk semakin mengembangkan ilmunya di bidang Teknologi. Semoga 5 Tokoh Indonesia Paling Berpengaruh Bidang Teknologi Informasi tadi bisa menambah wawasan serta bermanfaat bagi Anda semua. Terima Kasih

source : informatikamu.com/5-tokoh-indonesia-paling-berpengaruh-bidang-teknologi-informasi/
 

Buku Tamu

Recent posting

Recent comment