Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2016

Biografi Jenderal Tito Karnavian

Jenderal Pol Drs H M Tito Karnavian, MA, PhD, lahir di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia pada 26 Oktober 1964 (umur 51 tahun) adalah seorang perwira Polri yang saat ini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT).
Image result for tito karnavianTito lulus Akademi Kepolisian pada 1987 lalu. Tito tercatat sebagai penerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan Akpol terbaik Angkatan 1987 dan orang pertama yang telah mampu menembus pangkat jenderal bintang dua dalam angkatannya, saat menjabat Kapolda Metro Jaya.
Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1987 itu telah meniti sejumlah karir cemerlang di lingkungan Polri.
Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun 2001, saat itu Tito yang memimpin Tim Kobra berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang merupakan putra mantan Presiden Soeharto dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin.
Karirnya pun melaju pesat saat Tito bergabung dengan tim yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin M Top.
Tito Karnavian yang saat itu berpangkat Kombes kemudian naik pangkat menjadi Brigjen Pol dan naik jabatan menjadi Kepala Densus 88 Anti Teror.
Tito juga termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa saat tergabung dalam tim Bareskrim, yang berhasil melumpuhkan teroris Dr Azhari dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005.
Lalu pada 7 November 2005, Tito, yang masih menjabat Kapolres Serang, dihubungi oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara agar bersiap-siap ke Poso, Sulawesi Tengah.
Pukul 02.30 dinihari, Tito langsung berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Padahal ia baru kelar terlibat operasi pelacakan gembong teroris Doktor Azhari, yang berperan dalam peledakan Bom Bali II.
Oleh Makbul, Tito diminta membantu pelacakan mutilasi tiga orang siswa di Poso.
Jauh sebelumnya, ketika masih menjadi Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya, suami Tri Suswati itu sudah memimpin pencarian buron kasus Badan Urusan Logistik (Bulog), Soewondo.
Tim yang hanya beranggotakan empat orang itu, pada Oktober 2000 menciduk Soewondo yang telah menjadi buron selama 5 bulan.
Berkarier di kepolisian dari 1987, Tito sempat memimpin Polres Serang pada 2005, dari 2004 sampai 2010, Tito menghabiskan waktunya di Detasemen Khusus Antiteror 88.
Ia juga pernah menjadi Deputi Penindakan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.
Sejak Bom Bali I sampai serangan teroris Thamrin 2016, nama Tito selalu ada dalam pengungkapan kasus terorisme.
Salah satu prestasi doktor lulusan Nanyang Technological University pada November 2005 ini adalah saat dia berhasil menumpas Doktor Azhari di Malang.
Keberhasilan itu diganjar dengan kenaikan pangkat, dari Ajun Komisaris Besar Polisi jadi Komisaris Besar Polisi.
Sekarang, setelah Juni 2015 menjadi Kapolda Metro Jaya, Tito kembali "benar-benar" menggeluti pemberantasan terorisme.
Ia dilantik Presiden Joko Widodo sebagai menjadi Kepala BNPTpada Rabu, 16 Maret 2016. Bintang di pundaknya pun bertambah menjadi tiga.
Adapun pendidikan yang pernah diselesaikannya diantaranya di Universitas Exeter di Inggris tahun 1993 dengan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies, dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) di Jakarta tahun 1996 dengan meraih Strata 1 dalam bidang “Police Studies” dan mendapatkan Bintang Wiyata Cendekia sebagai lulusan terbaik PTIK.
Di samping itu di Tahun 1998 Tito Karnavian juga menyelesaikan pendidikan di Massey University Auckland di Selandia Baru dalam bidang Strategic Studies.
Dan juga mengikuti pendidikan di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura, tahun 2008 sebagai kandidat PhD dalam bidang Strategic Studies serta menyelesaikan PhDnya dengan nilai excellent.
Berikut Riwayat Jabatan yang pernah dijabatnya :
Ø Perwira Samapta Polres Metro Jakarta Pusat (1987)
Ø Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat (1987-1991)
Ø Wakapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat (1991-1992)
Ø Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat
Ø Spri Kapolda Metro Jaya (1996)
Ø Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat (1996-1997)
Ø Spri Kapolri (1997-1999)
Ø Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya (1999-2000)
Ø Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya (2000-2002)
Ø Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulawesi Selatan (2002)
Ø Koorsespri Kapolda Metro Jaya (2002-2003)
Ø Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya (2003-2005)
Ø Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya (2004-2005)
Ø Kapolres Serang Polda Banten (2005)
Ø Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Polri (2005)
Ø Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Polri (2006)
Ø Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Polri (2006-2009)
Ø Kadensus 88 Anti Teror Polri (2009-2010)
Ø Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2011-21 September 2012)
Ø Kapolda Papua (21 September 2012-16 Juli 2014)
Ø Asrena Polri (16 Juli 2014-5 Juni 2015)
Ø Kapolda Metro Jaya (5 Juni 2015-2016). 
Ø Kepala BNPT (16 Maret 2016 – 13 Juli 2016)
Ø Kapolri (13 Juli 2016).

Minggu, 11 September 2016

Biografi Jenderal Pol Anton Sujarwo


Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) 1983-1986. Sebelum menjabat Kapolri, putra bangsa kelahiran Bandung, 21 September 1930, ini secara berturut-turut menjabat Kapolda Kalimantan Barat (1975-1977), Kapolda Sumatera Utara (1977-1978) dan Kapolda Metro Jaya (1979-1983). Dia wafat dalam usia 58 tahun pada Senin siang 18 April 1988 di di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta Timur, setelah dirawat 45 hari karena menderita komplikasi beberapa penyakit.




Dalam pengabdiannya, Jenderal  polisi ini telah menerima 17 penghargaan (tanda jasa), di antaranya: Kesatria Tamtama RI, 
pahlawan Gerilya, SL. Perang Kemerdekaan I & II, Satya Lencana (SL) G.O.M. III s/d VI, Bintang Bhayangkara I & II, SL. Kemerdekaan 45, SL. Bhakti Karya, SL. Kesetiaaan 24 Tahun, SL. Satya Dharma, SL. Yana Utama, SL. Prasetya Panca Karsa, SL. Sapta Marga, SL. Wira Dharma, SL. Penegak, SL. Dwidya Sistha, dan Bintang Maha Putra.


Meniti karir mulai dari Staf Dit. Lantas di Pare, Kepala polisi Palopo, Sul-Sel (1954), Ajudan Kepala Kepolisian Negara (1956), Kepala Polisi Lalu Lintas, Makassar (1956), Anggota Biro Organisasi Bagian Hubungan Luar Mabes Polri (1957), Dan Kompi 5995 Rangers Brimob, Jakarta (1959), Sekolah Ranger di Amerika (Tidak selesai), Tugas Pembebasan Irian Barat, Danyon 32 Menpor, Jakarta (1962), Dan Menpor, Jakarta (1964), Dan KP-3, Tanjungpriok (1971), Dan Resor 102, Malang (1972), Kapolwil Malang (1972-1974) dan Kapus Brimob (1974-1975).

Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi polisi. Maka setelah menyelesaikan pendidikan SD di Cilacap (1945), SMP di Purworejo (1949) dan SMA di Magelang (1952), Anton masuk Sekolah Inspektur Polisi di Sukabumi dan lulus 1954.

Dia juga mengikuti Pendidikan Rangers SPMB, Porong (1960), Sekolah Infanteri Officer Orientation, Fort Benning, AS (1961) dan Susbanhan (1965). Kemudian mengikuti Pendidikan Para Dasar, Margahayu (1967) dan Seskoak RC IV di Lembang (1968) serta Pendidikan Jump Master, Sukabumi (1969).

Saat mulai menjabat Kapolri, instansi itu baru mendapat wewenang dan tanggung jawab sebagai penyidik tunggal sesuai dengan hukum acara pidana (KUHAP). Dia pun menata arah pembangunan organisasi jangka panjang Polri, menuju postur polisi yang terampil, tangguh, tanggap, berwibawa, dicintai rakyat, dan mampu melaksanakan tugasnya.

Kemduian dilakukan reorganisasi Polri, Juni 1985. Organisasi staf umum diubah menjadi direktorat. Reorganisasi ini juga dimaksudkan membenahi penampilan polisi agar tidak berpenampilan seperti militer.

Anton berusaha keras mengubah citra polisi. Dia menindak sejumlah polisi yang menyalahgunakan wewenang pada saat bertugas.

Selain memusatkan perhatian dan kegiatan pada tugas sebagai polisi, Anton juga menyelinginya dengan hobi naik sepeda motor dan memelihara berbagai jenis hewan, antara lain, burung perkutut, beo, cucakrawa, jalak, nuri, beo, sampai burung dara, juga kuda, sapi perah, anjing dobberman dan kodok serta tikus putih.

Dia juga masih menyempatkan waktu mengurus bola voli sebagai ketua umum organisasi bola voli (PBVSI). e-ti/tsl, dari berbagai sumber, di antaranya Polda Metro Jaya dan PDAT

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 

Buku Tamu

Recent posting

Recent comment