Senin, 07 Agustus 2017

POKOK POKOK PERANG GERILYA (1)

POKOK-POKOK GERILYA

I.POKOK-POKOK GERILYA

1. Peperangan abad ini adalah perang rakyat semesta
Dalam peperangan bukan hanya kedua belah pihak angkatan bersenjata yang berperang. Peperangan telah menjadi lebih luas dan lebih dalam, antara lain pula karena kemajuan teknik. Peperangan dewasa ini meminta sifat yang semesta, seantero rakyat baik harta dan tenaganya tersedia untuk diolah, untuk mencapai kemenangan. Semua sumber-sumber yang tersedia harus dipergunakan. Untuk mengalahkan bangsa lawan, bukan saja harus dibinasakan angkatan bersenjatanya, melainkan harus demikian pula semua susunan dan lembaga politik dan sosial ekonominya. Perang dewasa ini, bergolak sekaligus di sektor militer, politik, psikologis, dan sosial-ekonomis. Maka sifat serangan adalah semesta, demikian pula yang diserang menggunakan pertahanan rakyat semesta.

Angkatan bersenjata tidak dapat menyelamatkan kemenangan perang jika front politik, ekonomi, sosial dan psikologis tidak cukup kuat buat menunjangnya dan mengimbangi malah melebihi musuh. Maka pimpinan perang bukan cuma pimpinan militer, melainkan pimpinan pergolakan rakyat yang total. Akan tetapi janglah disalahartikan, bahwa perang itu tidak lagi ditentukan oleh hasil pertarungan kedua angkatan bersenjata. Sesungguhnya kekalahan musuh baru terjadi, kalau angkatan perangnya kalah. Akan tetapi buat kemenangan angkatan perang itu adalah syarat mutlak keteguhan front politik, psikologis, sosial dan ekonomis. Maka seantero lapangan kehidupan rakyat turut dalam pergolakan, dalam hubungan perang yang semesta.
Usaha perang bukanlah cuma usaha angkatan perang saja, melainkan telah menjadi usaha rakyat semesta dipelbagai sektor kehidupannya, yang masing-masing ikut serta dalam usaha yang seluruhnya, yang tak dapat lalai melalaikan lagi. Maka si penyerang mengadakan perang kilat untuk memecah-mecah organisasi lawan, sebelum ia mampu mengerahkan segenap tenaga dan harta rakyatnya buat pertahanan yang semesta. Maka negara-negara yang melalaikan persiapan-persiapan perangnya, adalah yang menjadi mangsa perang yang demikian, sehingga terlambat membangkitkan pertahanan rakyat semestanya. Ini adalah suatu bahaya bagi negara-negara demokrasi, yang dengan sendirinya lazim menjadi yang terserang sehingga ia ketinggalan waktu dalam pengerahan pertahanannya.

Maka dalam perang kemerdekaan Indonesia yang kita alami sendiri Belanda telah melancarkan serangan semesta pula terhadap Republik dan kita telah membalasnya dengan perlawanan rakyat yang semesta. Belanda telah mengolah maksimum kemampuan perang dari rakyatnya yang 10 juta, dan mengerahkan suatu angkatan perang seperti belum pernah sebelumnya. Belanda telah mengadakan ganti-mengganti dan bareng-membarengi ofensif politik, ofensif psikologis, ofensif militer, dan ofensif ekonomi.

Gerakan politiknya menghasilkan kota-kota di Jawa dan Sumatera dengan gencatan senjata serta “Linggarjati” 1947, yang memberi tempo dan ruangan buat mendatangkan dan menyusun tentara penyerbuannya. Gerakan militernya yang pertama membulatkan daerah-daerah tiap suku bangsa untuk menjadi negara-negara bagian buat pengepungan dan pengecilan arti Republik, sambil merebut daerah-daerah padi, daerah-daerah perkebunan, pelabuhan-pelabuhan, dan perhubungan-perhubungan. Gerakan politik “Renville” menghasilkan pengosongan kantong-kantong yang tak dapat dicapai oleh aksi militernya. Gerakan psikologis terus memecah-mecah front dalam negeri kita dengan pertengkaran dan provokasi yang tak habis-habisnya. Blokadenya melaparkan dan mengeringkan daerah-daerah Republik.

Maka kita pun pada pokoknya telah mengolah pertahanan rakyat semesta, walaupun tidak serapi cara lawan kita yang mempunyai organisasi yang jitu. Banyak kekurangan kita karena tiadanya koordinasi militer dan politik, tiadanya ketegasan siasat, sehingga musuh dapat kesempatan untuk mengalahkan kita sektor demi sektor dan taraf demi taraf, walaupun pada permulaannya posisi kita, baik politik dan militer, maupun psikologis, dan sosial-ekonomis, jauh lebih kuat, karena semua syarat ada pada kita. Belanda dapat masuk hanya dengan membonceng pada Inggris-Australia dan mula-mula hanya dapat berkuasa dalam kamp-kamp kawat berduri, sedangkan revolusi rakyat telah menguasai de facto hampir seluruh Indonesia, dan senjata-senjata Jepang yang kita rebut cukup buat beberapa divisi, sambil semua alat-alat produksi kita kuasai.

Maka dengan demikian pada umumnya pertahanan rakyat semesta kita itu adalah baru pada semboyan saja, belumlahh suatu usaha yang nyata. Demikian pula pertahanan rakyat semesta kita itu bukanlah keistimewaan kita, karena lawan kita pun dan lain-lain bangsa berbuat demikian, bangsa yang kecil maupun bangsa yang besar, yang berkehendak hati untuk menyelematkan kemerdekaan dan kedaulatannya terhadap lawan yang melanggar.

Rakyatlah yang berperang, dan bukan cuma angkatan bersenjata. Rakyatlah yang memaklumkan perang dan menentukan damai dan yang melahirkan angkatan bersenjatanya. Kaum militer haruslah senantiasa mengingat akan hal ini, ia adalah ujung tombak dari rakyat itu, yang diarahkan oleh rakyat itu pula.

Maka karena itu pulalah tentara-tentara di masa ini adalah tentara rakyat belaka, yakni bukan lagi suatu kaum yang terpisah dan tersendiri. Rakyat sendiri berlatih dan dari rakyat itu sendiri dikeluarkan dan diutuslah putra-putra buat memanggul senjata, kalau rakyat itu menggap perlu untuk berperang. Kepada rakyat itulah putra-putra itu kembali, jika perang selesai. Rakyat memobilisir putra-putranya untuk bertempur, rakyat kemudian mendemobilisir, memulihkannya lagi sehabis perang.

Buat ketertibannya oleh rakyat itu diatur milisi, dengan kewajiban milisi. Dan dalam kesemestaan perang itu diadakan pula kewajiban berlatih, buat lain lapangan juga kewajiban sipil dan pelbagai keharusan yang khusus.


2. Perang gerilya adalah perang si kecil/ si lemah melawan si besar/si kuat.

Jika suatu bangsa diserang dari luar, maka ia berusaha membela diri. Membela diri tidak berarti menangkis saja, menghindari diri daripada pukulan-pukulan, bukan, karena dengan demikian cuma secara pasif, musuh yang menyerang masih tetap kuat dan mampu untuk terus sepanjang masa menyerang. Membela diri itu harus berarti meniadakan ancaman dan pukulan selanjutnya, jadi untuk itu si penyerang dihancurkan, pokoknya dikalahkan.
Bangsa-bangsa yang demokratis pada lazimnya terpaksa berperang karena ia diserang, bukan ia yang mulai. Jika ia mempunyai angkatan bersenjata yang setara dengan agresor, artinya mempunyai organisasi atau kemampuan bertempur yang setara, maka dapatlah ia membela diri dalam suatu perang yang biasa. Biasanya si penyerang berkesempatan mendahului dalam hal, persiapan sehingga ia datang dengan jumlah (kekuatan) yang lebih besar dan di tempat-tempat dan saat-saat yang kurang penjagaan, sehingga ia mendapat terus kemajuan pada tingkatan-tingkatan yang pertama.

Sebaliknya si terserang ketinggalan wsaktu, dan ia berusaha memburu waktu yang ketinggalan itu. Ia berikhtiar menahan lawan selama munggkin dengan mundur berangsur-angsur, sehingga baginya cukup waktu dan ruangan untuk mengerahkan dan menyusun tenaga yang cukup kuatnya (jumlahnya) untuk membalas dengan serangan kembali. Jadi selama sebelum tercapai tingkatan itu ia terus melakukan defensif, membela diri, dengan mengelakkan pukulan-pukulan musuh, samai pada saat dan tempatnya, di mana ia telah cukup mengerahkan jumlah-jumlah (kekuatan) buat beralih kepada ofensif, kepada penyerangan. Karena akhirnya dengan ofensif, dengan menyerang inilah musuh dapat dikalahkan, artinya dibinasakan atau dihantam sedemikian sehingga ia putus harapan dan mengalah saja.

Akan tetapi waktu kita diserang oleh Belanda di tahun 1947, 1948, 1949 kita tak dapat berbuat demikian. Dalam tempo yang singkat musuh merebut semua kota yang penting dan jalan-jalan yang utama. Dan kita tidak mengumpulkan jumlah pasukan yang cukup untuk membalikkan arah serangan ke Jakarta dan memaksa Belanda bertekuk lutut, mengalah dengan tiada bersyarat. Bahwa ia akhirnya bersedia menarik tentaranya dari Indonesia, bukanlah karena dikalahkan oleh tentara kita, melainkan cuma karena dilelahkan dan dibuntukan oleh kita, sehingga tak ada harapannya lagi buat meniadakan Republik. Dalam kebuntuan ikhtiarnya itu maka oleh tekanan iternasional dipercepatlah penyerahan kedaulatan itu.

Sesungguhnya TNI kita tidak setara dengan Belanda. Betul pada tahun 1945 banyak pemuda kita yang telah berlatih, di Jawa saja ada 60 batalyon Peta; betul kita rebut persenjataan dari Jepang cukup untuk beberapa divisi, namun kita tidak mampu mengorganisir tentara yang setara, bukan saja karena kurang waktu dan apalagi kurang keahlian melainkan lebih-lebih karena strategi nasional kita terlalu mengabaikan faktor-faktor strategi militer. Maka Belanda telah mampu 1½ tahun kemudian mengerahkan 130.000 tentara yang modern yang tak dapat kita imbangi, walaupun jumlah tenaga kita beberapa kali lebih besar daripada mereka. Kita terpaksa menghadapkan pasukan-pasukan yang tidak setara, yakni infanteri yang sangat sederhan, yang hanya mampu bertempur sebagai seksi atau kompi. Senjata berat kita telah hilang atau habis dalam pertempuran-pertempuran di kota-kota besar dan di pinggir-pinggirnya, pada waktu sebelum mulai peperangan yang sebenarnya.

Akan tetapi ini hanya kupasan dari kemudian; pada saat-saat itu mungkin pemerintah kita tak mengetahui persis jumlah peralatan yang kita oper, karena kita di daerah bertindak sendiri-sendiril. Pada saat itu sangat sulit bagi markas besar untuk menguasai kesatuan-kesatuan dan daerah-daerah yang mempertahankan “kedaulatan” masing-masing. Maka karena itu semua terpaksalah pertumbuhan tentara diserahkan dengan leluasa kepada keadaan dan perbandingan-perbandingan setempat, jadi tiada dengan suatu rencana pembangunan yang tertentu atas dasar renaca siasat yang tertentu pula, yang memanfaatkan tempo, tenaga dan senjata seefektif-efektifnya.

Maka oleh karena itu kita tak mampu menghadapkan tentara yang agak setara, sehingga kita harus melakukan semata-mata perang gerilya, tidak seperti misalnya di Tiongkok dan Vietnam, di mana di samping gerilya telah beraksi organisasi resimen-resimen dan divisi-divisi yang berangsur-angsur dapat jadi tenaga penggempur yang akhirnya merebut kota, sambil semakin mengusir musuh. Maka kita berperang gerilya bukanlah karena kita diharuskan, karena telah tidak mampu menyusun kekuatan yang berorganisasi sekadar modern, yang setara. Maka gerilya kita pun baru pada tingkatan melelahkan musuh, belum sampai dapat menghancurkannya walaupun bagian demi bagian.

Maka karena itu pula, mungkin tiadalah pimpinan negara mempercayakan penyelesaian sepenuhnya kepada tenaga militer, melainkan senantiasa memilih cara politik, yang mencari persesuaian dengan musuh, dengan mengancam bayangan momok perang gerilya serta bumi hangus dan tekanan politik internasional.

Lain jadinya dengan sejarah gerakan merah di Tiongkok dan perang Viet-Minh di Indo Cina, di mana dengan tiada kompromis dilakukan perang buat mengalahkan musuh, di mana divisi-divisi berangsur-angsur tersusun untuk setaraf demi setaraf mengusir musuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Buku Tamu

Recent posting

Recent comment